M e n c a r i R e d h a I L a h i
Monday, April 30, 2007

AYAT-AYAT CINTA

Assalamu'alaikum wbt...

Dewasa ini, seringkali kita gagal mencari novel kontemporari yang dapat membina ruhani manusia seperti novel HAMKA dan boleh juga saya katakan novel-novel Faisal Tehrani. Ramai sahabat-sahabat saya mencadangkan buku AYAT-AYAT CINTA tulisan Habiburrahmin El Shirazy, Novelis, Sarjana Al Azhar University Cairo.... Jadi saje saye nak kongsi bersama komentar yang dibuat tentang novel ini oleh seorang Pemerhati Sastra dan Kandidat Doktor Twente Universiteit, Belanda, Hadi Susanto. Awasi deh..buku ini bahasanya totok Melayu Indonesia. Tapi saye tak pastilah kalau ada yang versi Melayu Malaysia. Tapi saya kira, pasti sudah hilang sastranya kalau sudah ditukar ke Melayu Malaysia.

Sahabat saya yang sorang ni pulak, ada cadangkan banyak jugaklah novel-novel yang boleh menjadi santapan rohani ni...tapi sayang sekali, penulisnya majoritinya bukan orang Malaysia. Penulis Malaysia banyak menulis cerita-cerita yang tidak membina, mengikut selera peminat dan pembaca, tidak cuba mendidik masyarakat.

Ya udah, dok membebel, tak sampai-sampai bab komentarnya...Pesanan kat buku ini, "Demi kepentingan dakwah, belilah buku asli dan bukan bajakan!!" =)
_________________________________________________________________






AYAT-AYAT CINTA; Novel Budaya, Novel Reliji, atau Novel Cinta?

Prolog: Hadi

[saye petik dari Novel Ayat-ayat Cinta prolog ini]

SAYA MENGENAL nama Habiburrahman El Shirazy, sebagai salah seorang pengasuh tanya-jawab masalah Islam di Pesantren Virtual, yang berbasis di Cairo. Suatu hari saya memberanikan diri untuk menanyakan sebuah masalah fikih langsung kepadanya. Dari situ persaudaraan kami bermula dan menjadi semakin erat dan hangat. Hingga akhirnya pembicaraan tidak hanya mengenai dunia fikih, tapi juga menyangkut tulis-menulis karena kebetulan kami berdua mengikuti sebuh organisasi kepenulisan yang sama (Forum Lingkar Pena). Walaupun demikian sampai saat ini kami belum pernah berjumpa.

Salah satu hal yang saya tangkap dari seorang Habiburrahman El Shirazy adalah semangat menulisnya yang sangat tinggi. Beberapa kali saya mendapat kehormatan untuk membaca dan memberikan saran terhadap tulisan-tulisannya yang akan diterbitkan. Pada kali kesekian saya terkejut dengan munculnya permintaan untuk menuliskan kata pengantar atas novelnya yang sekarang berada dalam genggaman Anda (Ayat-ayat Cinta).

Pertama kali menerima manuskrip novel ini, saya sudah curiga terlebih dahulu bahwa novel ini adalah novel islami yang menaburkan pesan-pesan moral kepada pembaca secara 'vulger'. Sudah bukan barang baru jika saya menyebutkan ada permusuhan antara sastra sekuler dengan sastra islami. Pencinta sastra islami menudut sastera sekuler sebagai sastra profan (menurt kamus Merriam-Webster, profane berarti 'yang merendahkan atau menodai sesuatu yang suci'). Secara otomatis dalam pikiran kita akan berkelebat nama Ayu Utami (Saman dan Larung) hingga nama baru Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch).

Sementara di sisi lain, pencinta sastra sekuler menuduh sastra islami kehilangan nilai sastranya hingga buku sastra tidak lain adalah buku agama. Hal ini bisa dipahami jika kita melihat bahwa banyak tulisan yang mengaku sebagai sastra islami menjadikan sastra sebagai alat berdakwah tetapi penulisnya lupa untuk menghias alat dakwah itu sendiri. Maka terasajilah pesan moral agama secara terbuka dan sangat jelas. Bagi sebagian kelompok orang, pesan-pesan seperti ini akan menjadi sesuatu yang vulger.

Saya mengira akan menjumpai hal yang sama ketika membaca manuskrip novel ini. Namun ternyata sejak baris pertama saya ter-jerat pada kehalusan penulis dalam melukiskan suasana alam Mesir. Halaman pertama dibuka dengan penceritaan suasana Mesir di musim panas. Dari sini masuk tokoh utama yang dikenalkan kepada pembaca melalui rangkaian kegiatan sehari-hari tokoh Fahri. Penulis berhasil menjadikan tokoh Fahri hidup, bahkan kita seolah-olah Fahri dalam novel ini. Hal ini berhasil dicapai terutama karena penulis memakai penceritaan orang pertama. Cara pema-paran bergaya 'aku' plus ketrampilan melukiskan keadaan alam sekitar, seperti tersaji dalam novel ini, mengingatkan saya kepada kampiun 'pelukis susana' yang terkenal, Karl May. Seorang kutu buku pasti mengenal penulis Winnetou, Ketua Suku Apache ini.

Saya yakin Habiburrahman El Shirazy berhasil melukiskan suasana kehidupan kota Mesir yang menjadi latar belakang cerita ini dengan begitu mengesankan kerana ia mengalami sendiri hari-hari di kota-kota Mesir. Saya seperti melihat langsung Mesir itu dalam suasana panas 41 derajatnya. Saya seperti melihat mahattah atau stasiun-stasiun di sana. Gambaran rumah-rumahnya. Budaya masayarakat-nya. Humor-humor yang digunakan orang Mesir. Dan banyak lagi yang lainnya. Saking berhasilnya penulis menghidupkan Fahri dan suasana di sekitarnya, saya sempat berpikir bahwa Fahri tidak lain adalah Habiburrahman El Shirazy sendiri. Sama persis, seperti saya dulu percaya bahawa Old Shatterhand adalah Karl May sendiri.

Membandingkan lebih jauh dengan Karl May, mungkin ada baiknya jika penulis novel ini mencantumkan sebuah peta Mesir atau peta khusus kota Cairo sehingga pembaca lebih bisa meneylami di manakan Nasr City, Cairo, Maydan Husein, dan kota-kota lainnya yang disebut dalam novel.

Suasana yang dibangun juga diperkental dengan digunakan bahasa Arab fusha (formal) maupun 'amiyah (informal) hampir dalam setiap paragrafnya. Dengan ini, catatan kaki-catatan kaki yang diberikan sangat membantu pembaca. Ungkapan-ungakapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan di sana-sini berhasil membawa pembaca ke dalam setting novel. Warna daerah terbangun dengan baik. Di sini saya jadi teringat pada caturlogi kumpulan sketsa-sketsa Umar Kayam mulai dari Mangan ora Mangan Kumpul hingga Satria Piningit dari Kampung Pingit. Pembaca kumpulan sketsa Pak Kayam akan langsung mengenal bahwa Pak Kayam orang Jawa yang - tentu saja - lancar berbahasa Jawa dan tinggal di kompleks perumahan orang-orang Jawa.

Seperti itu juga, setiap pembaca novel ini akan langsung mengenal bahwa penulisnya - minimal pernah - tinggal lama di Mesir, dan tentu saja lancar berbahasa Arab. Sehubungan dengan ketakutan saya semula ter-hadap novel ini sebagai sastra islami dan juga sehubungan dengan disebutnya novel ini sebagai novel pembangun jiwa, yang menarik adalah kemampuan penulis untuk menyisipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Kemampuan penulis untuk menyampaikan dakwanya sangat halus sebagai bagian dari cerita. Kehalusan ini sangat berarti untuk tidak menimbulkan perasaan pembaca bahwa dakwah itu sengaja diselipkan dengan terpaksa. Bahkan tanpa kita sadari ilmu fikih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan.

Tidak main-main, sebagai novel pembangun jiwa, novel ini ditulis dengan menggunakan sepuluh referensi. Bahkan 'hanya' untuk menuliskan adegan bertemunya Fahri dengan sahabat Nabi Imam Ibnu Mas'ud dalam mimpi, penulis perlu mendasarkan ceritanya pada Kitab Ar-Ruuh karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Karena judul novel ini mengandung kata 'cinta', akan tidak lengkap rasanya jika kita tidak membahas kesan yang tertangkap bahwa novel ini merupakan onvel romantis. Memang, novel ini juga novel asmara. Kehidupan Fahri diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha jelas sekali digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari disebutnya novel asmara. Disinilah kelebihan novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri namun tidak terjatuh ke dalam kevulgeran.

Ditemani nasyid yang dinyanyikan oleh Sami Yusuf dalam judul Al-Mu'allim, Allahu, dan Ya Mustafa yang saya putar berulang-ulang karena asyiknya, saya beberapa kali meneteskan air mata membaca novel ini. Beberapa bagian yang begitu indah, misalnya mimpi Fahri bertemu Ibnu Mas'ud mengingatkan saya pada kerinduan jiwa yang kotor ini terhadap Kekasih saya Al-Mu'allim Sang Guru Muhammad s.a.w.

Maka menjawab pertanyaan yang menjadi judul pengantar ini: inilah novel sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa. Novel ini perlu menjadi acuan terutama bagi penulis 'pemula' yang sangat bersemangat untuk menulis sastra islami. Dan akhirnya saya berharap semoga Anda menemukan kesan yang sama atau bahkan sesuatu yang lebih baik dari kehadiran novel ini, novel Ayat-ayat Cinta.

Enschede, 10 Desember 2003



"ToTaLLy BLanK selesai menaip @ 1:36 am"

Comments: Post a Comment




ABOUT ME



Peringatan buat diri sendiri:

61:2 O ye who believe! Why say ye that which ye do not?

61:3 Grievously odious is it in the sight of Allah that ye say that which ye do not


DOA

BICARA HATI SEORANG YANG BERGELAR WANITA

Segala puji bagi-Mu Tuhan.
Lantaran telah menjadikan aku seorang wanita...
Kiranya aku menjadi seorang isteri
Kurniakanlah padaku kekuatan
Menjadi tulang belakang seorang suami... seorang mujahid
Pengembang perjuangan di sayap kiri
Diadun dengan kelembutan
Menjadi teman sejati...
Sahabat setia penyejuk mata
Pembina semangat dan penguat jiwa
Seanggun peribadi Siti Khadijah
Ketenangan Baginda Rasulullah utusan Allah

Bebas jiwa dari belanggu keperempuanan
Yang memiliki sembilan nafsu
Merdeka dari kepentingan peribadi
Setulus Siti Fatimah yang sering ditinggalkan suaminya, Saidina Ali
Dihantar pemergiannya tanpa ditanya
Bilakah pulang?
Disambut kepulangannya dengan khidmat dan kemanisan
Bersulamkan kemesraan
Rumahtangga adalah syurga
Wadah suburnya cinta ketuhanan Ubudiyyah
Akal yang tunggal tidak dibiarkan
Hanya berlegar dicelahan periuk belanga
Disebalik lipatan lampin anak
Menjangkau kebangkitan Islam dialam sejagat
Menjadi pentadbir disebalik tabir !!!

Namun Ya Tuhan
Siapalah daku untuk memiliki
Watak wanita solehah pendamping Nabi
Dek berkaratnya mazmumah yang bersarang dihati
Maka kurniakanlah daku sekeping hati yang sentiasa Insaf
Hak seorang suami
Tidakkan mungkin kupenuhi
Biar telahku jilat nanahnya yang berlelehan
Biar telahku tadahkan wajahku
Buat mengesat debu ditelapak kakinya
Dan sememangnya aku mengimpikan
Watak seorang ibu
Yang bakal melahirkan
Putera-putera secekal Mus'ab bin Umar
Menggadai dunia demi kasih Tuhannya
Segigih Zubair Ibnu Awwaam
Yang diangkat Rasul sebagai hawarijnya
Hasil didikan seorang wanita bergelar ibu..
Jua memiliki puteri setabah Masyitah
Rela direbus demi mempertahankan iman
Atau sesuci Maryam seluruh hidupnya
Mengabdikan diri kepada Tuhan

Meskipun daku bukan ibunya
Yang memiliki peribadi semurni Siti Fatimah
Ibu Syeikh Abdul Kadir Jailani
Yang tiap titis darah mampu berzikir kehadrat Ilahi
Namun..
Mudah-mudahan zuriatku
Bakal menampilkan
Mujahid-mujahid yang rindu memburu syahid
Serikandi-serikandi yang mampu memakmurkan
Mukabumi Allah...
Dengan ketaqwaan.. kesolehan

Yang saling berkorban dan dikorbankan
Buat menyemarakkan
Islam diakhir zaman
Sebagaimana kisah seorang ibu
Yang telah kematian
Putera-puteranya dimedan jihad

"Mereka telah berbahagia sebagaimana aku bahagia
aduhai... kiranya aku punya seorang anak lagi
kurelakan dia turut gugur dijalan Ilahi"

Dan seandainya daku ditakdirkan kehilangan mereka
Setenang Ummu Faisal...
Yang tidak menjadikan kematian
Suami dan anak-anaknya
Halangan kecintaan pada-Mu Ya Ilahi...

Redhalah daku yang dhaif ini sebagai hamba-Mu
Inilah pengaduan harap dan munajat
Kiranya kekasih-Mu sendiri pernah menyatakan
"kulihat kebanyakan dari isi neraka itu adalah wanita..."






CALENDER



ARCHIVES

April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007




PREVIOUS POSTS

Masa

Laptopku

Treatment of the sick by reassurance and encourage...

Under Construction

Kimah sangat sweet

Caramelised Chicken Wing

Sudah lama ditinggalkan

Stories of People who embraced Islam: Noor (UK)

My Mum Is Amazing

Serabut





LINKS.

*Ustaz Hasrizal
*Harakahdaily
*Malaysia Today
*Ahas
*Faisal Tehrani


CREDITS

Designer: Kelli

Image: Made with adobe CS.2 by Kelli
Image hosted by : photobucket
.Brushes : aetherealityt



NASYID

Cinta Teragung - Mestica


MY COUNTER






TAG BOARD